
Malam kemarin, setelah membaca koran tentang adanya gerhana bulan sebagian, saya jadi antusias untuk melihatnya.
Gerhana, memang fenomena alam yang biasa terjadi. Akibat tertutupnya sinar matahari terhadap bulan oleh bumi, akhirnya bulan terlihat seperti berlubang atau bahkan hilang. Ini terjadi karena letak bulan, bumi, dan matahari berjajar simetris. Begitu juga dengan gerhana matahari, latak bulan berada persis di tengah antara bumi dan sang surya itu.
Dulu, banyak orang tua yang mengatakan bahwa bulan yang hilang itu akibat dimakan makhluk lain –istilahnya betorokolo. Dan kami pun percaya begitu saja. Akal kami belum sampai ketika dijelaskan tentang cahaya yang terhalang. Dan para orang tua kami, juga tidak tahu soal cahaya yang terhalang itu.
Akhirnya, jawaban yang tidak ilmiyah itu berkembang dan menjadi cerita secara turun menurun. Anehnya, kami, dan juga mereka, percaya dengan cerita-cerita khayal itu.
Konon di zaman Nabi dulu, gerhana bulan pernah menjadi cerita yang khayal seperti itu. Ada yang mengartikan gerhana sebagai pertanda tertentu, seperti kematian dan kelahiran. Kepercayaan itu sudah turun temurun semenjak dulu dan membudaya.
“Matahari dan bulan adalah sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah. Terjadinya gerhana bukan karena kematian atau kehidupan seseorang. Maka bila melihatnya berdzikirlah kepada Allah dengan mengerjakan shalat.”
Berdasar itulah, kemudian salat gerhana dilaksanakan. Salat gerhana (kusuf untuk gerhana matahari atau khusuf untuk gerhana bulan) sekarang ini jarang kita jumpai. Selama ini, sama sekali belum pernah mengikuti salat gerhana. Hanya sesekali ketika masih sekolah dulu –lupa-lupa ingat–, saya melaksanakan praktik ini.
Orang sekarang, memandang gerhana adalah sesuatu yang biasa. Sama seperti pergantian siang dan malam. Hingga terkadang hanya memandangnya begitu saja.
Malam itu, saya pun terbangun. Namun bangun hanya untuk melihatnya saja. Agak terlambat, saya baru bangun ketika menjelang pukul dua pagi. Walau konon gerhana sampai menjelang dini hari, ternyata mata saya –yang masih mengantuk dan agak tidak jelas jika digunakan untuk melihat kejauhan– tidak dapat menikmati gerhana itu.
Secara sekilas bulan yang berada di sisi atas agak ke barat itu terlihat ada sedikit benda yang halangi di sisi utara. Adakah yang dimaksud gerhana adalah itu? Ah, barangkali saya terlambat. Saya pun masuk ke rumah dengan kecewa. Padahal memang, gerhana malam itu hanya sebagian.
—
Gambar: Bulan yang saya lihat kemarin malam –kira-kira pukul 2 pagi. Bulan terlihat sempurna, hanya mengambilnya yang sedikit bergoyang menjadikan objek tidak benar-benar bulat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar